Kontak Kami

Jl. Raya Setu No. 89 Bekasi 17520
Phone : +62 21 8254 640
Fax : +62 21 8260 8997
Website : http://www.sttd.ac.id
Email : info@sttd.ac.id

Ina Geoportal Lebih Canggih dari Google Map

Screenshot

Ina-Geoportal, suatu portal informasi geospasial nusantara yang dibangun Badan Informasi Geospasial (BIG) dan bisa dibuka di http://tanahair.indonesia.go.id dirancang lebih canggih dari google map, kata Kepala BIG Dr Asep Karsidi.

“Google map itu berdasarkan foto satelit jpeg, kalau Ina-geoportal itu peta interaktif, untuk sharing, drag and drop dan lain-lain seperti GIS Application,” kata
Asep pada Talkshow “Ina-Geoportal: Satu Peta, Satu Solusi” dalam memperingati Hakteknas ke-17 di Gedung Sabuga ITB Bandung, Sabtu.

Karena itu, dia meminta semua pihak membuat peta tematik berdasarkan peta dasar yang telah disediakan BIG (dulu Bakosurtanal), yang selain gratis, mudah diakses, juga bisa dipertanggungjawabkan, bukan mengambil dari pihak selain BIG atau dari google.

“UU Nomor 4/2011 tentang Informasi Geospasial memberi wewenang kepada BIG sebagai lembaga satu-satunya yang membuat peta dasar. Itu karena BIG membuat peta berdasarkan sistem jaring kontrol geodesi, menggunakan layer kontur atau tiga dimensi,” katanya.

Ia juga menegaskan UU Nomor 4/2011 melindungi Indonesia dari kemungkinan penyalahgunaan data geospasial yang merugikan bangsa. Karena itu, meskipun data spasial nusantara bersifat open namun tetap dibatasi dengan kode pengaman untuk sejumlah data tertentu.

“Saya juga sudah didatangi google yang menanyakan UU baru itu, kuncinya Indonesia punya UU sebagai otorisasi informasi geospasial kita. Data yang dibangun google tentang Indonesia harus ada izin dari pemerintah Indonesia,” katanya.

Selama tidak melanggar UU, menurut dia, silakan saja membuat data geospasial karena peta yang dibuat google positif dan bermanfaat bagi masyarakat. Pihaknya juga mempersilakan kalau google mau menggunakan data spasial Ina-Geoportal.

“Tapi jangan masyarakat internasional dapat info tentang kita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ketika ada pihak ketiga menggunakan peta google atau ada pihak menyalahgunakan peta google,” katanya.

Akhir 2012, ujar Asep, pihaknya akan selesai memperbaharui peta dasar nusantara dengan ketelitian 1:250.000, yang akan terus dilanjutkan dengan 1:50.000, 1:25.000, hingga 1:1.000 sesuai amanat UU dimana halaman rumah akan jelas terlihat, namun ini merupakan tugas berat.

Sementara itu, Kepala Pusat Sistem Jaringan dan Sistem Data Spasial BIG Dodi sukmayadi dalam talkshow itu mempraktikan secara live pengoperasian Ina-Geoportal dimana sejumlah instansi seperti Kementerian PU, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan lain-lain sudah mengawali untuk menjadi simpul Ina-Geoportal BIG.

Ia berharap semua kementerian, lembaga dan pemerintah daerah bersedia mengintegrasikan datanya dan “sharing” dalam menyajikannya ke dalam Ina-Geoportal dengan syarat memiliki Pusat Data, Meta Data dan Unit Kliring yang memvalidasi data.

Sumber : antara

Beginilah Cara Waze Mengakali Kemacetan

CHIP.co.id – Kota Jakarta dikenal salah satunya sebagai kota paling macet. Untuk itu, adanya aplikasi seperti Waze sangat membantu warga Jakarta dalam menavigasi lalu lintas menghindari kemacetan. Namun, seperti apa sih caranya Waze bekerja? Dan bisa untuk apa sajakah aplikasi yang diakuisisi oleh Google ini? Mari kita simak!

Belum lama ini, CHIP berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol eksklusif dengan Amir Mirzaee selaku Head of Business Development Waze Asia. Amir ini adalah orang yang bertanggung jawab untuk pengembangan aplikasi Waze di Asia. Sehingga beliau adalah orang yang tepat untuk menjelaskan bagaimana sih sebenarnya Waze itu bekerja? Ternyata Waze adalah sebuah aplikasi yang cukup rumit, dan memiliki potensi lain yang lebih besar lagi. Untuk itu, mari kita telaah satu per satu mengenai aplikasi ini.

Apa yang membedakan Waze dengan aplikasi lain?

Waze adalah aplikasi yang baru bisa bekerja optimal jika didukung oleh para usernya. Dengan kata lain, Waze adalah aplikasi user based yang tanpa input dari para penggunanya, maka aplikasi ini tidak akan jauh berbeda dengan aplikasi penunjuk peta lainnya. Untungnya, Waze memiliki jumlah user sebanyak 1,5 juta orang untuk di Indonesia saja. Sedangkan, cukup 10% dari 1,5 juta orang itu saja yang aktif maka aplikasi Waze sudah dapat bekerja dengan maksimal.

Setelah memahami bahwa Waze itu sangat tergantung dari aktifnya para penggunanya, maka mari kita telaah lebih dalam lagi. Waze bekerja berdasarkan dari dua jenis data yang berbeda. Yang pertama adalah data yang berdasarkan dari Map Community dan yang kedua adalah data yang berdasarkan dari User Report.

Para map editor bisa memberikan input lewat web ataupun lewat aplikasi di smartphone.

Map Community adalah para user yang aktif memberikan update terhadap peta yang ada di daerahnya. Jadi, awalnya Waze memberikan data peta yang berdasarkan dari Google Map, dan kemudian para Map Editor memberikan tambahan-tambahan ke dalam peta dari Google Map tersebut. Bisa dibilang, jika awalnya Google Map itu ibarat kata seperti sebuah peta buta yang masih kosong dan hanya berisikan data mentah saja, kemudian setelah diolah oleh para Map Editor, peta tersebut menjadi peta kaya yang berisikan data-data yang lebih detail. Misalnya, seperti info jalan yang diportal, atau info jalan tol, sampai ke informasi jalan rusak. Hanya saja, masih ada keterbatasan terhadap Map Editor ini, yang akan kita bahas lebih lanjut di bawah.

Sedangkan User Report adalah informasi data yang diberikan oleh para pengguna Waze atau sering disebut sebagai Wazer. Data ini bersifat real time, atau aktual berdasarkan dari data langsung di lapangan. Data-data yang dikumpulkan dari para Wazer ini seperti informasi kemacetan, posisi polisi, kondisi jalan, kecelakaan, hambatan cuaca, sampai dengan laporan kendaraan mogok. Data-data inilah yang sangat diandalkan oleh Waze untuk memberikan saran navigasi untuk menghindari kemacetan.

Salah satu cara user input lewat aplikasi Waze di smartphone.

Kedua hal tersebut di atas yang membuat Waze menjadi lebih dapat diandalkan untuk memberikan navigasi yang akurat dibandingkan aplikasi lain, bahkan Google Map sekalipun. Padahal Google Map juga mengambil data lalu lintas dari Waze, namun karena Waze selalu mengupdate data secara real time sedangkan Google Map tidak, maka Waze lebih unggul.

Bagaimana cara Waze bekerja saat User Reporting?

Selain data-data mengenai peta dan lalu lintas yang didapat secara real time, Waze pada dasarnya adalah aplikasi yang memanfaatkan teknologi GPS sebagai nyawanya. Waze menggunakan GPS untuk mengambil lokasi dari seluruh Wazer dan kemudian memasukkannya ke dalam sistem otomatis yang bekerja di balik layar. Setiap kali ada Wazer yang memberikan informasi data, maka data tersebut akan dianalisa secara otomatis untuk menentukan tingkat akurasinya.

Cara melaporkan kemacetan di mana akan lebih akurat jika ada 2 atau lebih Wazer yang melaporkan.

Sebagai contoh, ada seorang Wazer yang memberikan laporan bahwa di posisinya terjadi kemacetan dengan tingkat kemacetan Heavy. Maka sistem Waze akan segera melakukan ping lokasi GPS di posisi Wazer tersebut untuk menandai lokasi yang dikatakan mengalami kemacetan. Reputasi si Wazer tersebut juga kemudian akan diperiksa, apakah dia adalah Wazer yang kompeten atau tidak. Semakin kompeten, maka semakin dipercaya pula data yang diberikan, sehingga proses otomatisasi akan berjalan lebih cepat. Berdasarkan dari data GPS jugalah, si Wazer tersebut kemudian ‘diamati’ melalui satelit GPS untuk menentukan kecepatan pergerakannya di dalam kemacetan. Dari sana maka juga bisa ditentukan sebenarnya Wazer tersebut berada di tingkat kemacetan seperti apa, apakah benar berada di Heavy Traffic.

Sementara Waze memantau Wazer tersebut lewat GPS, apabila ada Wazer lain yang memberikan reportase yang sama, maka sistem juga akan secara otomatis menyebarkan informasi tadi ke semua Wazer. Sehingga proses konfirmasi kemacetannya pun akan menjadi semakin cepat. Dengan kata lain, proses pemberitahuan kemacetan akan menjadi lebih efektif jika ada 2 atau lebih Wazer yang berada di lokasi yang sama.

Apa yang terjadi setelah laporan Wazer diterima?

Setelah laporan kemacetan tersebut dikonfirmasi lewat sistem, maka informasi tersebut akan langsung disebarkan ke seluruh Wazer di region tersebut. Jika, Anda menggunakan Waze untuk navigasi ke suatu tempat, maka sistem Waze akan mendeteksi bahwa Anda melalui kemacetan. Maka sistem Waze akan mencarikan alternatif jalan yang lain untuk menghindari macet tersebut. Namun, jika ternyata Anda tidak bisa menghindari kemacetan tersebut, maka Waze akan menampilkan waktu yang dibutuhkan untuk melewati kemacetan tersebut, sekaligus menambah waktu prediksi kedatangan di tujuan.

Berbagai macam features yang ditawarkan oleh Waze, yaitu estimasi waktu kedatangan dibandingkan dengan teman kita, dan Plan Drive di mana kita bisa menjadwalkan waktu dan tempat yang akan dituju.

Tidak hanya itu, sistem Waze juga akan terus memonitor lokasi kemacetan. Jika kemudian ada Wazer yang melewati posisi kemacetan tersebut dengan kecepatan normal, maka sistem Waze juga akan menghilangkan notifikasi kemacetan tersebut dari sistem dan menandai bahwa jalan tersebut sudah kembali normal. Namun, sama seperti proses report, butuh 2 atau lebih Wazer untuk benar-benar dapat memastikan kondisi jalan tersebut telah kembali normal.

Kelemahan Waze sampai saat ini?

Hanya saja, seperti halnya dengan aplikasi lain, Waze juga masih memiliki beberapa kelemahan. Seperti sudah disebutkan di atas, Waze masih memiliki kelemahan terutama pada map editor. Sampai artikel ini ditulis, Waze masih belum dapat membedakan antara jalan yang berada di ketinggian yang berbeda. Seperti misalnya jalan yang berada di bawah jalan tol, atau di bawah jalan layang (flyover). Karena sistem GPS yang ada saat ini masih memetakan dari satu sudut pandang 2D saja. Meskipun, teknologi GPS juga terus berkembang, dan menurut Amir bahwa mereka juga sedang mengembangkan Waze terus agar dapat membedakan ketinggian. Terutama karena sistem navigasi kini tidak lagi hanya mengandalkan data GPS saja, melainkan data-data yang dikumpulkan dari Smart City juga dapat memperkaya informasi yang dikembangkan di Waze.

Fungsi map editor masih ada beberapa kelemahan, seperti tidak bisa menunjukkan ketinggian jalan dan area dengan restriksi khusus seperti 3 in 1.

Selain ketinggian, map editor Waze juga masih belum bisa menandai jalanan yang memiliki restriksi khusus. Seperti misalnya jalur 3 in 1, atau nantinya ERP berdasarkan waktu tertentu yang akan diterapkan di Jakarta. Waze juga tidak bisa menandai area-area yang dianggap ‘berbahaya’. Seperti kasus di Brazil yang konon ada orang yang terbunuh akibat Waze mengarahkan mereka ke dalam area konflik. Menurut Amir, Waze tidak bisa menandai area-area tersebut karena Waze mencoba untuk tidak diskriminasi. Namun, Amir mengakui mungkin ke depannya Waze dapat memberikan warning atau catatan khusus saat mengarahkan ke area tertentu.

Untuk di Indonesia sendiri, user interface reporting masih harus menggunakan input manual atau dengan menggunakan tangan. Padahal di beberapa negara, Waze sudah dapat dioperasikan dengan hanya menggunakan suara. Misalnya untuk melaporan kemacetan, kita cukup melambaikan tangan di depan smartphone, lalu ucapkan laporan tersebut dengan suara. Amir meminta maaf sebelumnya kalau Indonesia masih belum dapat menggunakan feature ini. Menurutnya, kesulitannya terdapat pada aksen dari tiap negara yang berbeda-beda. Meskipun semuanya menggunakan bahasa Inggris. Teknologi dari Google ini masih kesulitan untuk membedakan aksen dari masing-masing negara. Karena masih ada kendala ini maka Waze memutuskan untuk tidak menyertakan feature tersebut di Indonesia. Namun, Amir berjanji akan segera memberikan feature ini dalam waktu secepatnya.

Potensi Waze selain untuk menghindari kemacetan?

Sebagaimana aplikasi yang mengumpulkan banyak data, tentunya Waze bisa saja mengambil keuntungan dari BIG data yang dikumpulkannya. Namun, Amir mengatakan bahwa Waze tidak tertarik untuk monetizing BIG data yang dikumpulkan oleh Waze. Karena menurutnya, data-data tersebut sebenarnya adalah milik bersama. Karena tanpa input dari para user, maka Waze tidak akan dapat bekerja.

Meski demikian, Amir juga mengatakan bahwa monetizing yang bisa dilakukan di Waze ada beberapa cara. Seperti misalnya ia memberikan contoh di Amerika, aktor Arnold Schwarzenegger dan Morgan Freeman memberikan suara mereka ke dalam Waze untuk mempromosikan film yang mereka bintangi. Untuk hal itu, mereka justru membayar Waze untuk memperdengarkan suara mereka yang khas untuk memberikan petunjuk arah.

Selain itu, Amir juga mengatakan ada monetizing secara B2B di mana brand atau produk bisa tampil di dalam peta yang diberikan oleh Waze. Ada banyak potensi B2B, bisa jadi berbentuk seperti mini game di mana kita dapat mengumpulkan point saat melewati lokasi tertentu, dan point tersebut bisa ditukarkan menjadi sesuatu dari partner B2B tadi.

Amir juga mengatakan bahwa mereka akan lebih aktif untuk memberikan konten lokal ke dalam Waze. Seperti misalnya mereka berencana akan memberikan suara komedian terkenal sebagai penunjuk jalan. Harapannya, maka selain berguna untuk menghindari macet, Waze juga dapat menghibur di kala terjebak di tengah macet.

 

Sumber: http://chip.co.id/news/apps-special_report/16288/beginilah_cara_waze_mengakali_kemacetan